Manajemen - Dewan Pengawas



Widodo Muktiyo

Widodo Muktiyo

Ketua Dewan Pengawas

Menteri BUMN Erick Thohir menetapkan Prof. Dr. Widodo Muktiyo, SE. M.Com sebagai Ketua Dewan Pengawas Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.

Widodo Muktiyo saat ini adalah Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa Kementerian Kominfo.

​​​​​​Pria kelahiran Klaten, pada tanggal 27 Februari 1964  itu ditetapkan menjadi Dewan Pengawas Perum LKBN Antara sesuai dengan Surat Keputusan Menteri BUMN Erick Thohir selaku wakil pemerintah sebagai pemilik modal Perum LKBN Antara Nomor SK-205/MBU/06/2020 tanggal 15 Juni 2020 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Dewan Pengawas Perusahaan Umum (Perum) LKBN Antara.

Sebagai Ketua Dewan Pengawas Antara, Widodo didampingi tiga anggota dewas lainnya yaitu Widiarsi Agustina sebagai Anggota Dewan Pengawas, Mayong Suryo Laksono sebagai Anggota Dewan Pengawas Independen, dan Monang Sinaga sebagai Anggota Dewan Pengawas Independen.

Widodo meraih prestasi bidang akademik, sebagai Guru Besar di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo untuk bidang studi Ilmu Komunikasi. Ia juga alumnus Ilmu Komunikasi FISIP UGM, Fakultas Ekonomi UII dan Alumnus OATS di Osaka Jepang.

Mengawali karier sebagai Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tahun 2008 dan menjadi Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama pada tahun 2015.

Pada 1999, ia sempat merintis berdirinya Perhimpunan Hubungan Masyarakat (PERHUMAS) di Solo. Dan tahun 2001 mendirikan Media Watch Surakarta (MWS).

Beberapa buku pernah ditulisnya, antara lain Pengantar Ilmu Komunikasi (1992), Ekonomi Pembangunan (1994) dan Bagaimana Cara Menjual dan Membangun Citra (2004).

Widodo, pemilik hobi berkebun ini juga dikenal sebagai sosok yang memberikan pencerahan, menginspirasi banyak orang, dan selalu membangun komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekitarnya.

Widiarsi Agustina

Widiarsi Agustina

Anggota Dewan Pengawas

Widiarsi Agustina, atau akrab disapa Niniel telah malang melintang di dunia jurnalistik, khususnya media cetak dan digital dengan pengalamannya selama kurang lebih 24 tahun berkecimpung di media.

Ketertarikannya terhadap dunia jurnalistik itu agaknya linier dengan kuliahnya di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta (1988-1995) yang mengantarkannya meraih gelar sarjana komunikasi massa.

Berbagai media pernah dijajalnya, mulai Harian Berita Yudha di Jakarta pada Desember 1995-September 1996 dengan bidang peliputan masalah-masalah, politik, militer dan hukum.

Pada medio September 1996 hingga Februari 1997, Niniel pindah ke Harian Media Indonesia, masih berkutat dengan persoalan yang hampir sama, yakni isu politik dan militer, plus ekonomi.

Kurang dari setahun menjadi jurnalis di Harian Media Indonesia, mulai Maret 1997 Niniel pindah haluan ke majalah mingguan bernama Forum Keadilan, masih di Jakarta.

Di Majalah Forum Keadilan, Niniel tetap menjalankan tugas mewawancarai, melaporkan, dan menulis berita, ditambah meneliti dan membantu wartawan-wartawan senior melakukan laporan investigasi.

Kariernya sebagai jurnalis di Majalah Forum Keadilan dijalaninya hampir dua tahun, hingga Desember 1999.

Pada rentang Januari-November 2000, Niniel sempat menjadi editor di portal berita Astaga.com, sebelum akhirnya berlabuh selama 18 tahun berkarier di Tempo Inti Media yang menaungi harian dan majalah Tempo, televisi, serta "online".

Kariernya di Tempo diawali dari Asisten Editor Harian Koran Tempo, yang fokus menangani berita-berita bidang politik, ekonomi, dan metropolitan. Posisi editor junior ini dilakoninya kurang lebih tiga tahun, yakni 2000-2003.

Jabatan yang diembannya pada medio Juli 2017 - Mei 2018 itu, Niniel bertanggung jawab terhadap semua wartawan dan kontributor, terutama memastikan transisi ke platform digital berlangsung lancar dalam budaya produksi dan alur kerja.

Dengan latar belakangnya dan pengalamannya di bidang jurnalistik, Niniel kemudian ditarik ke Istana, dan dipercaya menjadi Kepala Tim Newsroom di Kantor Sekretariat Presiden (KSP) pada Mei 2018 hingga Oktober 2019.

Masih di KSP, sejak Oktober 2019, Niniel yang diangkat sebagai Tenaga Ahli Utama Kedeputian Bidang Informasi dan Komunikasi Politik kembali dipercaya menjadi Penasihat Senior.

Selain itu, Niniel juga tercatat sebagai penulis buku "Massa misterius Malari: Rusuh Politik Pertama dalam Sejarah Orde Baru", dan terlibat pula dalam penulisan dan penyuntingan berbagai buku.

Kini, jebolan Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu dipercaya masuk dalam jajaran Dewan Pengawas Perum LKBN ANTARA melalui Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-205/MBU/06/2020 tanggal 15 Juni 2020 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Dewan Pengawas Perusahaan Umum (Perum) LKBN Antara.

Mayong Suryo Laksono

Mayong Suryo Laksono

Anggota Dewan Pengawas

Mayong Suryo Laksono, resmi ditunjuk oleh Menteri BUMN Erick Thohir melui Surat Keputusan Nomor SK-205/MBU/06/2020 tanggal 15 Juni 2020 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Dewan Pengawas Perusahaan Umum (Perum) LKBN Antara sebagai salah satu anggota Dewan Pengawas (Dewas) Independen LKBN ANTARA pada Senin 15 Juni 2020.

Mayong Suryo Laksono yang merupakan suami dari politisi dan aktris senior Nurul Arifin tersebut melihat tantangan ANTARA sebagai sebuah kantor berita saat ini cukup besar. Terlebih lagi, persoalan informasi, komunikasi dan juga teknologi, yang menurut dia, dewasa ini begitu mudah diakses dengan terbukanya arus informasi. Sementara, ANTARA memiliki visi dan misi yang memang harus menjaga dan mempertahankan kenegaraan.

Mayong lahir pada 8 Juni 1961, memiliki latar belakang pendidikan Filsafat Universitas Gadjah Mada.

Mengikuti sejumlah pelatihan jurnalistik dan kehumasan di beberapa lembaga, Mayong mengawali karir jurnalistik di Tabloid Monitor pada 1986. Lima tahun kemudian, Mayong menjadi wartawan Majalah Intisari.

Dalam berkarir di media milik Kompas itu, bapak dua anak tersebut juga menjalani banyak penugasan di Kelompok Kompas Gramedia, antara lain menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Citra (2002-2004), menulis sejumlah buku dan terlibat dalam tim penulisan buku-buku terbitan Gramedia.

Dalam dunia jurnalistik televisi, Mayong pernah menjadi produser berita "Fokus" Indonesia pada 1996-1997.

Selain karir jurnalistik, Mayong juga memiliki pengalaman dalam bidang penyiaran dengan menjadi pembawa acara di sejumlah stasiun televisi, salah satunya "Cinema Cinema," tayang di RCTI pada 1994-2004, yang membuahkan empat piala Panasonic Awards.

Mayong mengakhiri jabatan redaktur Majalah Intisari pada 2014. Tahun berikutnya, Mayong memimpin majalah gaya hidup Motorride, yang kemudian dilepasnya setelah menjadi komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (Pusat) periode 2016-2019.

Monang Sinaga

Monang Sinaga

Anggota Dewan Pengawas

Monang Sinaga diangkat sebagai salah satu anggota Dewan Pengawas (Dewas) Independen LKBN ANTARA melaui Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-205/MBU/06/2020 tanggal 15 Juni 2020 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Dewan Pengawas Perusahaan Umum (Perum) LKBN Antara bersama Dirjen IKP Kementerian Kominfo Profesor Dr Widodo Muktiyo yang ditunjuk sebagai Ketua Dewas LKBN ANTARA oleh Menteri BUMN Erick Thohir pada Senin 15 Juni 2020.

Monang Sinaga lahir pada 3 Maret 1972. Pria asal Pematang Siantar itu menyelesaikan pendidikan S1 Jurnalistik, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, 1997.

Menjadi anggota dewan pengawas kantor berita yang berdiri sejak 13 Desember 1937, Monang berharap ANTARA dapat menjadi referensi utama media-media di Indonesia.

Monang memulai karirnya sebagai jurnalis pada tahun 2000, ketika media online mulai menjamur. Ketertarikannya terhadap dunia jurnalistik telah dimulai sejak berada di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu dia telah mulai mengirimkan tulisan dan dimuat oleh media Ibukota.

Selain menulis, Ayah dari dua putra itu juga memiliki hobi memotret. Karya fotonya juga dimuat di sejumlah media. Sebelum sepenuhnya fokus pada karir jurnalistiknya, Monang sempat bekerja di Departemen Pekerjaan Umum (saat ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), bagian kehumasan untuk menulis buletin internal.

Pria yang memiliki kegemaran bermain bola dan bermain bulu tangkis itu kemudian bergabung dengan Kantor Berita Kyodo di Indonesia pada 2001.

Selama 16 tahun berkarir sebagai jurnalis Kantor Berita Kyodo, Monang banyak melakukan peliputan seputar politik. Dia juga aktif dalam wadah wartawan DPR, dan sering kali menjadi moderator diskusi politik yang digelar DPR.

Dalam perjalanannya sebagai wartawan DPR itu, pada 2014, Monang merilis buku "Tim Sembilan membongkar skandal Century" pada 2014, berangkat dari ketertarikannya terhadap para inisiator dan perjalanan panitia khusus dalam menyelidiki kasus Bank Century.